Selasa, 18 September 2018

MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF DAN KONTEKSTUAL

Model pembelajaran merupakan kerangka konseptual berupa pola prosedur sistematik yang dikembangkan berdasarkan teori dan digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan belajar. Berikut akan dijelaskan mengenai model pembelajaran kolaboratif dan kontekstual.
1.      Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif dapat didefinisikan sebagai  filsafat pembelajaran yang memudahkan para siswa bekerjasama, saling membina,  belajar dan berubah bersama, serta maju bersama pula. Ada beberapa keunggulan pembelajaran kolaborasi, antara lain berkenaan dengan :
·         Prestasi belajar lebih tinggi,
·         Pemahaman lebih mendalam,
·         Mengembangkan keterampilan kepemimpinan,
·         Meningkatkan sikap positif,
·         Meningkatkan harga diri,
·         Belajar secara inklusif,
·         Merasa saling memiliki, dan
·         Mengembangkan keterampilan masa depan.

Sejumlah faktor yang perlu diperhatikan dalam pola belajar kolaboratif, yakni peran peserta didik dan peran pembelajar. Peran peserta didik yang perlu dikembangkan adalah ;
  • Mengarahkan, yaitu menyusun rencana yang akan dilaksanakan dan mengajukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi,
  • Menerangkan, yaitu memberikan penjelasan atau kesimpulan-kesimpulan pada anggota kelompok yang lain,
  • Bertanya, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengumpulkan informasi yang ingin diketahui,
  • Mengkritik, yaitu mengajukan sanggahan dan mempertanyakan alasan dari usulan/ pendapat/pernyataan yang diajukan,
  • Merangkum,yaitu membuat kesimpulan dari hasil diskusi atau penjelasan yang diberikan,
  • Mencatat, yaitu membuat catatan tentang segala sesuatu yang terjadi dan diperoleh kelompok, dan
  • Menghubungkan, yaitu meningkatkan interaksi yang terjadi antara anggota kelompok.

2.      Pembelajaran Kontekstual ((CTL : Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran Kontekstual ((CTL : Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan tenaga kerja. Pembelajaran kontekstual bukan merupakan suatu konsep baru. Penerapan pembelajaran di kelas-kelas Amerika pertama- tama diusulkan oleh John Dewey pada tahun 1916. Teori pembelajaran kontekstual berfokus pada multiaspek lingkungan belajar di antaranya ruang kelas, laboratorium (IPA,IPS, Bahasa, Bengkel Kerja), laboratorium computer,tempat bekerja, maupun tempat-tempat lainnya.
Pembelajaran Kontekstual ((CTL : Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antar materi yang diajarkannnya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama Pembelajaran Kontekstual, yakni : 

a.       Kontruktivisme ( constructivism)
Kontruktivisme ( constructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit , yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekoyong-koyong.Pengetahuan bukannlah seperangkat fakta-fakta , konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.

b.         Bertanya (questioning)
                    Bertanya (questioning)dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru
        untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi
        siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan
        pembelajaran yang berbasi inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan
        apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum
        diketahuinya.

c.       Inkuiri ( inquiry)
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. 
d.       Masyarakat belajar ( learning community)
               Hasil belajar yang diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada diluar sana, semua adalah anggota masyarakat-belajar.
 
e.       Pemodelan (modeling)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru oleh siswanya. Modelnya bisa guru, siswa ataupun yang ahli dibidangnya.
f.       Refleksi (Reflection)
                                 Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke  
                      belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu.
g.      Penilaian autentik (authentic assessment)
                                Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan 
                      gambaran  perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu 
                      diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses 
                      pembelajaran dengan benar.
 REFERENSI
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif  Berorientasi Konstruktivistik.Jakarta : Prestasi Pustaka Publisher.
Sani, R.A.2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Suryani, N. 2018. Diakses tanggal 16 September 2018. Implementasi Model Pembelajaran Kolaboratif Untuk Meningkatkan Ketrampilan Sosial Siswa. 

         Berdasarkan artikel diatas penulis ingin berdiskusi bersama mengenai beberapa pertanyaan antara lain:
1.      Dalam CTL, Apa saja instrument yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa?
2.      Bagaimana langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas?
3.      Apa saja kelemahan model pembelajaran kolaboratif?

16 komentar:

  1. Saya akan mengomentqri pertanyaan nomor 3
    Salah satu kelemahan dari model pembelajaran kooperatif adalah kecenderungan masih banyak siswa mengandalkan siswa lain yg kemampuannya lebih baik dalam kegiatan pembelajaran. Atau masih banyak siswa yg bergantung pada siswa yg pintar saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sangat setuju dengan pendapat Wendra Priatama
      pembelajaran kolaboratif memungkinkan adanya siswa yang tidak ikut terlibat dalam menyelesaikan tugas kelompok

      Hapus
    2. terima kasih sdr. wendra dan sdri novrina bagaimana kiat seorang guru dalam membagi kelompok agar semua siswa aktif ?

      Hapus
  2. Salam edukasi bestia..
    Menurut saya,apabila CTL digunakan dalam pembelajaran kurikulum 2013, maka instrumen penilaian yg harus disiapkan oleh guru adalah instrumen penilaian psikomotor, sikap dan kognitif..

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sangat setuju dengan pendapat kak fira karena 3 aspek memang dituntut dalam k13 seperti yang sudah dipaparkan oleh saudari kak fira

      Hapus
    2. terima kasih sdri fira dan sdri desi apakah ada rubrik penilaian khusus untuk kedua model ini?

      Hapus
  3. saya akan menanggapi pertanyaan no 3
    kendala menggunakan model kolaboratif
    1. memerlukan pengawasan yang baik dari guru
    2. ada kecenderungan untuk mencontoh pekerjaan orang lain
    3. memerlukan waktu yang cukup lama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sependapat dengan saudari zahara. kendala menggunakan model kolaboratif
      1. memerlukan pengawasan yang baik dari guru
      2. ada kecenderungan untuk mencontoh pekerjaan orang lain
      3. memerlukan waktu yang cukup lama .
      Tambahan lagi siswa yang menjadi pasif karna mengandalkan teman satu kelompoknya. Terima kasih

      Hapus
    2. terima kasih sdri. zahara dan sdri. rohana bagaimana kiat dalam membagi kelompok agar semua peserta didik aktif?

      Hapus
  4. saya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang kelemahan model pembelajaran kolaboratif yaitu memerlukan pengawasan yang baik dari guru, karena jika tidak dilakukan pengawasan yang baik, maka proses kolaboratif tidak akan efektif.
    Ada kecenderungan untuk saling mencontoh pekerjaan orang lain.
    Memakan waktu yang cukup lama, karena itu harus dilakukan dengan penuh kesabaran.
    Sulitnya mendapatkan teman yang dapat bekerjasama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan Rahayu.
      Bahwasanya kelemahan atau kekurangan model pembelajaran kolaboratif yaitu memerlukan waktu pembelajaran yang cukup lama dan memerlukan pengawasan dari guru agar terciptanya kolaborasi yang baik.

      Hapus
    2. terima kasih sdri. rahayu dan sdri. fella bagaimana kiat kita sebagai seorang guru agar tercipta kerjasama yang baik antar peserta didik?

      Hapus
  5. saya akan menaggapi pertanyaan no 2.
    Langkah-langkah pembelajaran CTL antara lain :

    1.Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri ,dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
    Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik
    2.Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
    3.Menciptakan masyarakat belajar
    4.Menghadirkan model sebagia contoh belajar
    5.Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
    6.Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih sdri reni mohon jelaskan maksud "masyarakat belajar" dan jenis penilaian yang dilakukan dengan model ini.

      Hapus
  6. Terimakasih untuk artikel yang bermanfaat ini memberikan referensi tambahan bagi saya

    BalasHapus

KECERDASAN BUATAN ATAU ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI)

  Perkembangan komputer dewasa ini telah mengalami banyak perubahan yang sangat pesat, seiring dengan kebutuhan manusia yang semak...