Model pembelajaran merupakan kerangka
konseptual berupa pola prosedur sistematik yang dikembangkan berdasarkan teori
dan digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar mengajar untuk mencapai
tujuan belajar. Berikut akan dijelaskan mengenai model pembelajaran kolaboratif
dan kontekstual.
1.
Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran
kolaboratif dapat didefinisikan sebagai
filsafat pembelajaran yang memudahkan para siswa bekerjasama, saling
membina, belajar dan berubah bersama,
serta maju bersama pula. Ada beberapa keunggulan pembelajaran kolaborasi,
antara lain berkenaan dengan :
·
Prestasi
belajar lebih tinggi,
·
Pemahaman
lebih mendalam,
·
Mengembangkan
keterampilan kepemimpinan,
·
Meningkatkan
sikap positif,
·
Meningkatkan
harga diri,
·
Belajar
secara inklusif,
·
Merasa
saling memiliki, dan
·
Mengembangkan
keterampilan masa depan.
Sejumlah
faktor yang perlu diperhatikan dalam pola belajar kolaboratif, yakni peran
peserta didik dan peran pembelajar. Peran peserta didik yang perlu dikembangkan
adalah ;
- Mengarahkan, yaitu menyusun rencana yang akan dilaksanakan dan mengajukan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi,
- Menerangkan, yaitu memberikan penjelasan atau kesimpulan-kesimpulan pada anggota kelompok yang lain,
- Bertanya, yaitu mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengumpulkan informasi yang ingin diketahui,
- Mengkritik, yaitu mengajukan sanggahan dan mempertanyakan alasan dari usulan/ pendapat/pernyataan yang diajukan,
- Merangkum,yaitu membuat kesimpulan dari hasil diskusi atau penjelasan yang diberikan,
- Mencatat, yaitu membuat catatan tentang segala sesuatu yang terjadi dan diperoleh kelompok, dan
- Menghubungkan, yaitu meningkatkan interaksi yang terjadi antara anggota kelompok.
2.
Pembelajaran Kontekstual ((CTL : Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran Kontekstual ((CTL : Contextual
Teaching and Learning) merupakan
suatu konsepsi yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan
situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan
dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warga negara
dan tenaga kerja. Pembelajaran kontekstual bukan merupakan suatu konsep baru.
Penerapan pembelajaran di kelas-kelas Amerika pertama- tama diusulkan oleh John
Dewey pada tahun 1916. Teori pembelajaran kontekstual berfokus pada multiaspek
lingkungan belajar di antaranya ruang kelas, laboratorium (IPA,IPS, Bahasa,
Bengkel Kerja), laboratorium computer,tempat bekerja, maupun tempat-tempat
lainnya.
Pembelajaran
Kontekstual ((CTL
: Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antar materi yang
diajarkannnya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama Pembelajaran Kontekstual, yakni :
a. Kontruktivisme ( constructivism)
Kontruktivisme
( constructivism) merupakan landasan
berpikir (filosofi) pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun
oleh manusia sedikit demi sedikit , yang hasilnya diperluas melalui konteks
yang terbatas dan tidak sekoyong-koyong.Pengetahuan bukannlah seperangkat
fakta-fakta , konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia
harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
b.
Bertanya
(questioning)
Bertanya
(questioning)dalam pembelajaran
dipandang sebagai kegiatan guru
untuk
mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi
siswa,
kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan
pembelajaran
yang berbasi inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan
apa
yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum
diketahuinya.
c. Inkuiri ( inquiry)
Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran
berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa
diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari
menemukan sendiri.
d. Masyarakat belajar ( learning community)
Hasil belajar yang diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada diluar sana, semua adalah anggota masyarakat-belajar.
Hasil belajar yang diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, dan antar yang tahu ke yang belum tahu. Di ruang ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang ada diluar sana, semua adalah anggota masyarakat-belajar.
e. Pemodelan (modeling)
Dalam
sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa
ditiru oleh siswanya. Modelnya bisa guru, siswa ataupun yang ahli dibidangnya.
f. Refleksi (Reflection)
Refleksi
adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu.
g. Penilaian autentik (authentic assessment)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa
memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu
diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses
pembelajaran dengan benar.
REFERENSI
Trianto.
2007. Model-model Pembelajaran
Inovatif Berorientasi Konstruktivistik.Jakarta
: Prestasi Pustaka Publisher.
Sani, R.A.2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Sani, R.A.2013. Inovasi Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara.
Suryani,
N. 2018. Diakses tanggal 16 September 2018. Implementasi Model Pembelajaran
Kolaboratif Untuk Meningkatkan Ketrampilan Sosial Siswa.
Berdasarkan artikel diatas
penulis ingin berdiskusi bersama mengenai beberapa pertanyaan antara lain:
1. Dalam CTL, Apa saja instrument yang
bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa?
2. Bagaimana langkah-langkah penerapan
CTL dalam kelas?
3.
Apa saja kelemahan model
pembelajaran kolaboratif?
Saya akan mengomentqri pertanyaan nomor 3
BalasHapusSalah satu kelemahan dari model pembelajaran kooperatif adalah kecenderungan masih banyak siswa mengandalkan siswa lain yg kemampuannya lebih baik dalam kegiatan pembelajaran. Atau masih banyak siswa yg bergantung pada siswa yg pintar saja.
saya sangat setuju dengan pendapat Wendra Priatama
Hapuspembelajaran kolaboratif memungkinkan adanya siswa yang tidak ikut terlibat dalam menyelesaikan tugas kelompok
terima kasih sdr. wendra dan sdri novrina bagaimana kiat seorang guru dalam membagi kelompok agar semua siswa aktif ?
HapusSalam edukasi bestia..
BalasHapusMenurut saya,apabila CTL digunakan dalam pembelajaran kurikulum 2013, maka instrumen penilaian yg harus disiapkan oleh guru adalah instrumen penilaian psikomotor, sikap dan kognitif..
saya sangat setuju dengan pendapat kak fira karena 3 aspek memang dituntut dalam k13 seperti yang sudah dipaparkan oleh saudari kak fira
Hapusterima kasih sdri fira dan sdri desi apakah ada rubrik penilaian khusus untuk kedua model ini?
Hapussaya akan menanggapi pertanyaan no 3
BalasHapuskendala menggunakan model kolaboratif
1. memerlukan pengawasan yang baik dari guru
2. ada kecenderungan untuk mencontoh pekerjaan orang lain
3. memerlukan waktu yang cukup lama
Sependapat dengan saudari zahara. kendala menggunakan model kolaboratif
Hapus1. memerlukan pengawasan yang baik dari guru
2. ada kecenderungan untuk mencontoh pekerjaan orang lain
3. memerlukan waktu yang cukup lama .
Tambahan lagi siswa yang menjadi pasif karna mengandalkan teman satu kelompoknya. Terima kasih
terima kasih sdri. zahara dan sdri. rohana bagaimana kiat dalam membagi kelompok agar semua peserta didik aktif?
Hapussaya akan menanggapi pertanyaan no 3 tentang kelemahan model pembelajaran kolaboratif yaitu memerlukan pengawasan yang baik dari guru, karena jika tidak dilakukan pengawasan yang baik, maka proses kolaboratif tidak akan efektif.
BalasHapusAda kecenderungan untuk saling mencontoh pekerjaan orang lain.
Memakan waktu yang cukup lama, karena itu harus dilakukan dengan penuh kesabaran.
Sulitnya mendapatkan teman yang dapat bekerjasama.
Saya sependapat dengan Rahayu.
HapusBahwasanya kelemahan atau kekurangan model pembelajaran kolaboratif yaitu memerlukan waktu pembelajaran yang cukup lama dan memerlukan pengawasan dari guru agar terciptanya kolaborasi yang baik.
terima kasih sdri. rahayu dan sdri. fella bagaimana kiat kita sebagai seorang guru agar tercipta kerjasama yang baik antar peserta didik?
Hapussaya akan menaggapi pertanyaan no 2.
BalasHapusLangkah-langkah pembelajaran CTL antara lain :
1.Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri ,dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik
2.Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
3.Menciptakan masyarakat belajar
4.Menghadirkan model sebagia contoh belajar
5.Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
6.Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.
terima kasih sdri reni mohon jelaskan maksud "masyarakat belajar" dan jenis penilaian yang dilakukan dengan model ini.
HapusTerimakasih untuk artikel yang bermanfaat ini memberikan referensi tambahan bagi saya
BalasHapusterima kasih sdri. febby
Hapus